SELUBUNG PEREMPUAN
"Ketika hati nurani tak didengar lagi..."
15 Oktober 2013 ini, kebetulan beruntung mendapat tiket gratis di kursi VIP dari seorang tetua Teater KataK yang turut berperan dalam pementasan drama musikal SELUBUNG PEREMPUAN di Graha Bakti Budaya, TIM (terimakasih ka Itok yg tanggal 14 lalu berulang tahun :D)
Kalau melihat dari posternya, awalnya tidak terlalu berminat untuk menonton pementasan ini, apalagi ternyata tiketnya juga tidak murah, tapi akhirnya nonton juga, karena diberi jaminan kalau aku akan suka menontonnya.
Dan ternyata memang benar, pementasan yang menjadi aksi penggalangan dana untuk Pembangunan Pusat Pastoral Keuskupan Agung Jakarta ini digelar dengan cukup mewah (menurut pendapat pribadi penulis), walaupun teknisnya agak sedikit kacau, tapi secara keseluruhan pementasannya bagus dan sarat akan pesan.
Dari sisi kostum secara keseluruhan sepertinya disponsori oleh kebaya-kebaya cantik dari Cipta Busana Martha Tilaar dan ada pagelaran busana dari Anne Avantie.
(Cerita tambahan: tadi sempat bertemu dengan Ibu Anne Avantie, cantik dan anggunnya memang secantik kebaya-kebaya buatannya :"D)
Sponsor-sponsornya juga bukan perusahaan-perusahaan kecil.
Baiklah, mari kita move on ke inti tulisan, yang adalah kesan tentang pementasannya.
Cerita pementasan drama musikal Selubung Perempuan ini mengangkat tema perempuan, perempuan yang suka membiarkan suara hati nuraninya terabaikan karena sesuatu hal yang dalam pementasan ini disebut dengan 'selubung'.
Selubung sendiri menurut penulis adalah sesuatu yang 'sementara' yang menutupi penglihatan, tapi dalam drama ini lebih ke pendengaran, untuk mendengarkan hati nurani.
Drama musikal ini menceritakan 4 cerita wanita dari satu lelaki yang sama, yang diawali dengan sepenggal cerita awal dosa Adam dan Hawa.
satu kalimat yang mengena adalah, "Jangan biarkan kesalahan perempuan menjadi penutup kelemahan laki-laki."
Cerita dari wanita pertama yang adalah seorang istri, yang mau sering dibohongi tanpa disadari olehnya karena intan berlian dan nafsu yang selalu dipuaskan oleh suaminya.
Wanita kedua adalah seorang Nyonya cantik yang rela menjadi bulan-bulanan pejabat demi kelancaran usaha berondong 'peliharaannya' yang selalu memuaskan nafsunya.
Wanita ketiga adalah seorang janda ting-ting yang belum pernah bunting, yang mau menikah dengan seorang lelaki yang sebelumnya menjadi kekasih tanpa statusnya dan dijadikan bulan-bulanan orang-orang disekitarnya karena ia merindukan kehangatan seorang laki-laki dan juga ia dijanjikan mendapat kenaikan pangkat dan perusahaan lelaki itu akan diberikan kepadanya.
Wanita ke-empat adalah seorang pembantu rumah tangga di rumah pasangan suami istri (wanita pertama) yang rela dihamili karena sering diberi hadiah-hadiah mewah, namun di akhir cerita ia hamil dan meminta agar janin itu memiliki status walaupun dirinya tidak.
Di akhir cerita akhirnya ke empat wanita itu tahu bahwa laki-laki yang selalu dipujanya itu ternyata tak lebih dari seorang pembohong yang mengkhianati mereka dengan menjalin hubungan dengan wanita lain.
Namun bagi lelaki yang berperan sebagai Adam, itu adalah kesalahan perempuan yang menyerahkan diri mereka padanya untuk dipuaskan nafsu dan gairahnya, untuk dibahagiakan dengan uang, emas dan berlian.
Empat wanita dalam pementasan tersebut merupakan representasi dari kebanyakan wanita yang mudah jatuh dalam dosa karena hedonis, individualis, konsumtif, materialistis, kekosongan nilai dan nafsu ragawi.
Sedangkan Adam yang menjadi tokoh utama pria dalam pementasan tersebut merupakan sosok Adam dari cerita Adam dan Hawa dari Alkitab yang menuding Hawa atas dosa pertama yang dibuatnya, seperti yang tertulis dalam Kitab Kejadian 3:12, 'Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku. Dia-lah yang memberikannya kepadaku...'
Adam... menjadikan Hawa tameng atas dosa yang juga diperbuatnya.
Pesan kuat yang mau disampaikan dari drama musikal yang dipentaskan selama kurang lebih 180 menit ini adalah bahwa sesungguhnya:
' wanita seringkali membisukan hati nuraninya karena selubung-selubung yang tak pernah rela ditinggalkannya. '
padahal sesungguhnya hati nurani selalu benar dan tak pernah berhenti untuk mengingatkanmu bahwa (mungkin) yang dilakukan adalah salah.
untuk itu asahlah hati nurani untuk merasakan kehadiran Tuhan :)
Untuk penulis sendiri, drama musikal Selubung Perempuan ini sarat akan makna, namun satu diantaranya adalah bahwa wanita seringkali membiarkan dirinya terikat selubung yang menurut mereka adalah zona nyamannya dan membiarkan dirinya diperbudak dan dipermainkan oleh para lelaki, diperlakukan secara tidak adil, semata-mata karena mereka takut untuk keluar dari sana dan mengikuti hati nurani yang sebenarnya adalah suara Tuhan yang selalu menyertai setiap hati wanita, namun seringkali dibiarkan membisu.
Mungkin mulai sekarang di setiap doa akan kusisipkan satu bait harapan agar hati ini bisa semakin terasah hingga dapat semakin mendengar hati nurani hingga dapat merasakan suara dan keberadaan-Nya yang sesungguhnya tak pernah meninggalkan umat-Nya di segala situasi.
"Suara hati nuranimu tak pernah berhenti mengingatkan
Bukalah diri, tengok jendela mata keperempuanan
Maka lepaskanlah... lepaskanlah selubungmu..."
-TRD-